Rabu, 19 September 2012

JAGAT RAYA DAN TATA SURYA




PERKEMBANGAN JAGAT RAYA DAN PEMBENTUKAN MUKA BUMI
Jagat Raya dan Tata Surya
1.    Pengertian Jagat Raya
a.    Yang disebut jagat raya, alam semesta atau antariksa yaitu ruangan yang meluas ke segala arah, tidak terhingga, tetapi ada batas-batasnya yang belum dapat diketahui.
b.    Jagat raya diduga bentuknya melengkung dan dalam keadaan memuai.
c.    Jagat raya terdiri atas galaksi-galaksi atau sistem-sistem bintang yang jumlahnya ribuan. Salah satu diantaranya adalah galaksi Bimasakti.
d.    Galaksi-galaksi terdiri atas benda-benda langit yang ada, yang membentuk sistem bintang yang kecil-kecil. Salah satu anggota dari tata surya adalah planet bumi.

Jadi jagat raya adalah ruangan yang maha luas, yang tak dapat diketahui atau dibayangkan luasnya. Galaksi adalah kumpulan bintang, planet, gas, debu, nebula, dan benda-benda langit lainnya yang membentuk “pulau-pulau” di dalam ruang hampa jagat raya. Secara umum bentuk-bentuk galaksi dibedakan menjadi 4 macam, yaitu :
a.    Bentuk spiral, galaksi ini mempunyai roda-roda catherina, dengan lengan-lengan berbentuk spiral keluar dari pusat yang terang (jumlahnya kira-kira 60%).
b.    Bentuk spiral berpalang, lengan-lengan spiral galaksi ini keluar dari bagian ujung suatu pusat kira-kira 18% dari jumlah galaksi merupakan spiral-spiral ataupun spiral-spiral yang terpotong.
c.    Bentuk elips, galaksi ini berbentuk elips, mulai dari bentuk hampir menyerupai bola kaki, sampai pada bentuk yang sangat lonjong seperti bola rugby (jumlahnya kira-kira 18%).
d.    Bentuk tak beraturan, kira-kira 4% dari jumlah galaksi berbentuk tak beraturan atau tidak mempunyai bentuk tertentu.
Ciri-ciri galaksi:
·         Galaksi mempunyai cahaya sendiri bukan cahaya pantulan.
·         Galaksi-galaksi lainnya dapat terlihat berada di luar galaksi Bimasakti.
·         Jarak antara galaksi yang satu dengan yang lainnya jutaan tahun cahaya.
·         Galaksi mempunyai bentuk-bentuk tertentu, misalnya: bentuk spiral, bentuk elips, dan bentuk tidak beraturan (irregular galaxis).

Menurut para ahli astronomi, ruang antara galaksi yang satu dengan galaksi yang lainnya tidak kosong tetapi mengandung materi yang disebut zat inter galaxy. Zat inter galaxy ini seperti zat interstellair yang terdiri dari proton, elektron, dan ion lain yang bergerak simpang siur dalam jagat raya ini. Ada beberapa macam galaksi yang sudah diketahui manusia, antara lain:
a.    Galaksi Bimasakti, merupakan galaksi di mana bumi berada. Galaksi ini memiliki bentuk spiral dengan diameter kira-kira 100.000 tahun cahaya.
b.    Galaksi Magellan, merupakan galaksi yang paling dekat dengan galaksi bimasakti. Jaraknya kurang lebih 150.000 tahun cahaya dan berada di belahan langit selatan.
c.    Galaksi Ursa Mayor, berjarak 10.000.000 tahun cahaya dari galaksi bimasakti. Bentuk galaksi ursa mayor adalah elips dan rapat.
d.    Galaksi jauh, galaksi-galaksi yang terletak lebih dari 10.000.000 tahun cahaya dari galaksi bimasakti tersebut galaksi jauh. Contoh galaksi jauh yaitu: galaksi silvery, triangulum, dan whirlpool.
2.    Jagat Raya yang Mengembang
Bahwa jagat raya mulai dengan sebuah ledakan yang hebat dan sejak itu sampai sekarang jagat raya terus berkembang.
a.    Pendapat-pendapat baru
Jagat raya berada dalam ruang yang membentuk ke segala arah dengan ledakan dan tak ada batasnya. Ruang ini berdimensi 3 atau berukuran panjang, lebar, dan dalam (tebal). Di samping itu mengalir “waktu” yang berdimensi satu, mengalir dari masa yang lampau ke mas yang akan datang. “Ruang” (space) dan “waktu” (time) adalah dua paham yang berbeda.
                       
b.    Jagat raya dipenuhi bintang-bintang dan kabut-kabut
Jagat raya dipenuhi dengan bintang-bintang dan kabut-kabut yang memberi lapangan gravitasi, dimana sinar cahaya dibelokkan dari arah lurus.
c.    Teori Creatio Continua
Teori tersebut menjelaskan bahwa alam raya tidak sekaligus diciptakan dalam satu waktu, tetapi semenjak permulaan secara terus-menerus dilahirkan partikel-partikel atau bagian-bagian atom, yang dalam waktu jutaan tahun mengembun menjadi kabut-kabut kosmis, kemudian memadat menjadi kabut-kabut spiral dengan bintang-bintang dan jasad-jasad angkasa lainnya

3.    Teori-teori Asal Mula Jagat Raya
a.    Teori ledakan hebat
Teori ledakan hebat menurut Baker adalah perluasan jagat raya menurut teori hebat dianalogikan dengan sebuah balon yang digelembungkan. Bintik-bintik A, B dan C menggambarkan galaksi-galaksi di lokasi yang relatif tetap.

b.    Teori keadaan tetap
Dalam teori keadaan tetap, harus diterima anggapan bahwa zat baru selalu diciptakan dalam ruang angkasa di antara berbagai galaksi, sehingga galaksi baru akan terbentuk guna menggantikan galaksi yang menjauh.

4.    Kritikan-kritikan Pada Teori Ledakan Hebat dan Teori Keadaan Tetap
a.    Anggapan antroposentris
Antroposentris (anthropos = manusia; centrum = pusat) adalah anggapan yang menyatakan bahwa manusia sebagai pusat segalanya.
b.    Anggapan geosentris
Geosentris (geo = bumi; centrum = pusat) adalah anggapan yang menyatakan bahwa bumi adalah pusat semesta alam.
c.    Anggapan heliosentris
Heliosentris (helios = matahari; centrum = pusat) adalah anggapan bahwa pusat jagat raya adalah matahari. Beberapa ahli pendukung teori heliosentris antara lain: Bruno, Johanes Kepler, Galileo, Isaac Newton.

5.    Tata Surya
Planet-planet dalam tata surya dibagi dalam dua golongan, yaitu planet dalam dan planet luar:
a.    Planet-planet dalam, yaitu planet-planet yang lintasannya di antara bumi dan matahari. Yang tergolong planet dalam ialah Merkurius dan Venus.
b.    Planet-planet luar, yaitu planet-planet yang lintasannya mengelilingi matahari lebih jauh dan lebih besar daripada jari-jari lintasan bumi mengelilingi matahari. Yang tergolong planet luar ialah Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Sebelum tahun 2006, planet dalam sistem tata surya didefinisikan berjumlah sembilan, termasuk pluto. Namun, pada Agustus 2006, para ilmuwan astronomi yang tergabung dalam The International Astronomical Union (IAU) memutuskan untuk mengeliminasi Pluto dari sistem tata surya. Hal ini karena Pluto tidak memenuhi syarat sebagai planet.
Pada tahun 2006 telah ditemukan jenis planet lain seperti UB 313 atau Zena yang memiliki ukuran lebih besar dari Pluto dan bersatelit. Begitu juga dengan ditemukannya belasan planet lain yang berukuran lebih kecil dari Pluto seperti Quasar, Huya, Sedna, Orvus, Vesta, Pallas, Hygica, Varuna, dan 2003EL61. Planet 2003EL61 memiliki satelit, namun ukurannya lebih kecil dari Pluto.
Beberapa hal penting mengenai planet-planet:
a.    Planet-planet tidak mempunyai cahaya sendiri.
b.    Planet-planet tidak berkelap-kelip seperti halnya bintang sejati, tetapi berkilauan.
c.    Dengan teropong kecil, planet-planet itu terlihat sebagai keping atau cakram yang bersinar.
d.    Lintasan-lintasan planet ini merupakan bidang-bidang yang berbentuk elips.
e.    Planet-planet beredar mengelilingi matahari dengan arah yang sama.
f.     Kebanyakan planet-planet mempunyai satelit (pengiring) atau bulan.

6.    Terjadinya Bumi dan Tata Surya
a.    Hipotesis kabut (solar nebula)
Menurut Imanuel Kant (1724-1804) bahwa di jagat raya terdapat gumpalan kabut yang berputar perlahan-lahan. Bagian tengah kabut itu lama-kelamaan menjadi gumpalan gas yang kemudian menjadi matahari dan bagian kabut sekitarnya menjadi planet-planet dan satelitnya.
b.    Hipotesis planetesimal
Menurut Thomas C. Chamberlin (1843-1928) bahwa matahari telah ada sebagai salah satu dari bintang-bintang yang banyak. Pada suatu masa, ada sebuah bintang berpapasan pada jarak yang tidak terlalu jauh. Akibatnya, terjadilah peristiwa pasang naik pada permukaan matahari maupun bintang itu. Sebagaian dari massa matahari itu tertarik ke arah bintang.
c.    Hipotesis pasang surut gas
Pada tahun 1917 sarjana Inggris, James Jeans (1877-1946) dan Herald Jeffries menyatakan bahwa hipotesis ini pada suatu saat sebuah bintang yang hampir sama besarnya dengan matahari melintas di dekat matahari. Hal ini menimbulkan terjadinya pasang pada matahari. Pasang itu berbentuk seperti cerutu yang sangat besar. Bentuk cerutu yang sangat besar ini kemudian bergerak mengelilingi matahari dan mengalami perpecahan menjadi sejumlah butir-butir tetesan kecil.
d.    Hipotesis peledakan bintang
Menurut Fred Hoyle (1956) menyatakan bahwa kemungkinan matahari memiliki kawan sebuah bintang (matahari juga bintang) dan pada mulanya berevolusi satu sama lain. Ada juga diantaranya yang memadat dan mungkin terjerat ke dalam orbit keliling matahari. Banyak bintang yang meledak akan bebas di ruang angkasa.
e.    Hipotesis kuiper
Menurut Gerard P. Kuiper (1905-1973) mengemukakan bahwa semesta terdiri dari formasi bintang-bintang. Menurut dia, dua pusat yang memadat berkembang dalam suatu awan antarbintang dari gas hidrogen. Pusat yang satu lebih besar daripada pusat yang lainnya dan kemudian memadat menjadi bintang tunggal, yaitu Matahari.






A. Sejarah Pembentukan Bumi
Era sejarah pembentukan Bumi dapat dibagi empat, yaitu: Prakambrium, Paleozoikum, Mesozoikum, dan Kenozoikum.
1.  Prakambrium
Era Prakambrium lebih tua dari zaman Kambrium, dimana lapisan-lapisannya selalu terdapat di bawah lapisan-lapisan yang mengandung fosil. Karena bentuknya agak melingkar dan permukaannya sedikit cembung, maka inti-inti Prakambrium disebut “perisai benua”.
2.  Palaezoikum
a.     Kambrium
Semua masih hidup terbatas pada air laut, terutama jasad-jasad samudera, contohnya: archaecyatha dan binatang petunjuk.
1.                                                                                                Archaecyatha
Peranannya seperti binatang karang sekarang. Gamping yang mengandung Archaecyata telah ditemukan di California, Siberia, Spanyol, Australia, dan lain-lain.
2.    Binatang
Binatang yang menjadi fosil penunjuk yang terpenting pada Zaman Kambrium adalah Trilobita yaitu sejenis udang-udangan yang berkulit keras.

Anggapan yang menyebabkan binatang-binatang yang dapat memfosil sekian banyak dan ditemukan sebagian besar di daerah tertentu, misalnya Kanada Barat, adalah:
a)    Pada zaman Kambrium, batu-batuan terkena pengaruh metamorfosa lebih kecil sehingga lapisan-lapisan batu-batuan yang telah diendapkan dalam zaman geologi yang lebih muda. Contohnya Lempung Lemigrad.
b)    Setelah zaman Kambrium, beberapa kelompok binatang lebih mempunyai kerangka, kemungkinan untuk memfosil lebih besar.

Batuan pada zaman Kambrium bercirikan endapan gamping yang mengandung banyak pirit, sedimen pasir, berlempung, dan kaya akan fosil. Maka kambrium diperkirakan lamanya 70 juta tahun. Dengan menggunakan jejak fosil, maka dapatlah diketahui 3 macam zaman Kambrium yaitu:
1)    Fauna Kambrium Bawah
Masih bersifat kosmopolit, yaitu binatang-binatang masih terdapat di berbagai tempat di dunia (Trilobit Olenellus).
2)    Fauna Kambrium Tengah
Sudah terbagi menjadi daerah-daerah fauna Pasifik dan Atlantik. Daerah Atlantik sebagai fosil binatang Paradoxides (Pasifik Olenoides).
3)    Fauna Kambrium Atas
Daerah fauna Pasifik bercirikan Diclocephalus dan terus menembus Eropa-Tiongkok-Tibet sampai Spanyol. Daerah fauna Atlantik bercirikan Olenus.
b.    Silur
Banyak kelompok binatang baru muncul dalam zaman Silur ini. Diantaranya yang terpenting adalah Vertebrata atau binatang bertulang belakang.
c.   Devon
Zaman ini bercirikan munculnya tumbuh-tumbuhan darat dan binatang bertulang belakang. Pada dasarnya Devon terbagi atas 3 macam, yaitu Devon Bawah, Devon Tengah, dan Devon Atas.
d.      Karbon
Zaman ini ditandai dengan timbulnya sejumlah besar karbon bebas di perbagai bagian dunia.
e.      Perm
Ciri lain adalah adanya penyimpangan fauna laut dari 2 karbon fosil pada era Paleozoikum yang penghabisan.
Di Indonesia, peninggalan Perm ditemukan di Timor pada lembah Sungai Noil, besi di Miaffo Timor Barat Daya berupa lapisan lava-lava bantal. Lapisan Perm mengandung minyak, kalium (bahan porselin), lempung keramik, besi, dan batu bara.
Pada umumnya, dalam sejarah bumi ditemukan kaidah-kaidah sebagai berikut:
1)    Bila perbedaan tinggi topografi tidak seberapa dan terdapat genangan laut yang luas, maka akan terdapat iklim yang panas dan merata di bagian bumi yang luas.
2)    Bila perbedaan tinggi topografi besar, yaitu selama ada orogenesis (masa pembentukan pegunungan) yang penting dan meluas di seluruh dunia, ada pembagian iklim yang jelas misalnya kutub, sedang, kering, gersang, dan hujan tropis.

Jadi, dari era Paleozoikum dan Prakambrium dapat disimpulkan beberapa hal, yakni :
-       Pada era Azoikum dapat dikatakan belum ada kehidupan sama sekali, barulah pada era Proterozoikum mulai ada kehidupan.
-       Pada era Paleozoikum mulai ada fosil-fosil baik berasal dari flora maupun fauna.
-       Pada era Paleozoikum dapat disebut mulai ada tingkat kehidupan. Pada saat itu mulai timbul berbagai kehidupan seperti tumbuhan daratan pertama, ikan, dan ubur-ubur yang tingkat kehidupannya masih sangat sederhana.

3.    Mesozoikum
Mesozoikum terdiri dari zaman Kapur, Jura, dan Trias. Zaman Kapur berumur kurang lebih 90 juta tahun, Jura 145 juta tahun, dan Trias 190 juta tahun. Pada zaman ini mulai timbul dan berkembang tumbuh-tumbuhan berdaun lebar, binatang melata, amfibi, ikan, dan binatang menyusui pertama.

4.    Kenozoikum
Kenozoikum disebut juga era Neozoikum, terdiri dari zaman tersier dan kuarter dan merupakan tingkat kehidupan baru.
a.     Zaman Tersier terbagi menjadi masa eosen, oligosen, dan pleistosen. Masa Eosen berumur 70 juta tahun, Oligeosen 42 juta tahun, Miosen 20 juta tahun, dan Pleistosen 16 juta tahun. Pada zaman Tersier tumbuh-tumbuhan berkembang biak dan meluas ke seluruh wilayah kontinen, demikian juga mulai timbul dan berkembang tumbuh-tumbuhan berbunga.
b.  Zaman Kuarter terdiri dari masa Pleistosen atau Diluvium dan masa Holosen atau Aluvium


B.   Perkembangan Muka Bumi (Pangaea Dan Gondwana)
Benua Asia terdiri dari tiga lempeng benua yang besar, yaitu Eurasia, Pasifik, dan India. Eurasia merupakan lempeng yang paling besar dan relatif statis, sedangkan lempeng Pasifik dan India terus-menerus bergerak, menggeser ke arah barat laut (Pasifik), dan utara (India). Gerakan-gerakan yang saling “tabrakan” ini menghasilkan jajaran pulau-pulau dan jajaran pegunungan seperti Pegunungan Himalaya
Hal-hal penting tentang gerakan benua adalah sebagai berikut:
1.    Gerakan-gerakan lempeng tektonik terus-menerus terjadi dan menciptakan berbagai perubahan di permukaan bumi.
2.    Sumber gerakan ini ialah arus yang disebabkan oleh panas bumi.
3.    Lempeng tektonik dapat meleleh waktu mendekati kulit bumi dan keluar lewat gunung api, celah, atau retakan seperti yang terjadi pada Pematang Atlantik Tengah.
4.    Dasar batuan yang meleleh mendesak maju ke bagian kerak bumi yang lebih tua.
5.    Teori gerakan lempeng tektonik banyak kaitannya dengan persebaran gunung api di muka bumi dan terjadinya gempa bumi.

Beberapa teori tentang gerakan benua disampaikan oleh beberapa ahli sebagai berikut:
1.    Alfret Lothar Wegener
Ia mengemukakan teori yang disebut Apungan dan Pergeseran Benua-benua.  Adapun titik tolak teori Wegener tersebut adalah:
a.    Adanya persamaan yang mencolok antara garis kontur pantai timur Benua Amerika Utara dan Selatan dengan garis kontur pantai barat Eropa dan Afrika.
b.    Daerah Greenland sekarang ini bergerak menjauhi daratan Eropa dengan kecepatan 36 meter/tahun, sedangkan Kepulauan Madagaskan menjauhi Afrika Selatan dengan kecepatan 9 meter/tahun.
Dengan peristiwa tersebut maka terjadilah hal-hal sebagai berikut:
1)    Adanya kegiatan seismik yang luar biasa di sepanjang Patahan St. Andreas, dekat pantai Barat Amerika Serikat.
2)    Batas Samudera Hindia makin mendesak ke Utara. Anak Benua India semula diduga agak panjang, tetapi karena gerakannya ke Utara, maka India makin menyempit dan makin mendekati ke Benua Eurasia. Proses tersebut menimbulkan lipatan Pegunungan Himalaya.

2.    Descartes
Menurut Rene Descartes (1596-1650), bumi makin susut dan mengkerut karena pendinginan.

3.    Edward Suess
Suess menyatakan bahwa persamaan geologi yang terdapat di Amerika Selatan, India, Australia, dan Antartika disebabkan oleh bersatunya daratan-daratan itu pada awal mulanya yang merupakan satu benua dan disebut Benua Gondwana.

C. Deskripsi Karakteristik Perlapisan Bumi
Lapisan kerak bumi itu terdiri atas dua bagian, yaitu :
·        Kerak bumi yang tebalnya sekitar 40 km.
·        Kerak dasar samudera yang tebalnya sekitar 10 km.
Litosfer terpecah-pecah menjadi 12 lempeng. Dinamakan lempeng, karena bagian litosfer itu mempunyai ukuran yang besar di kedua dimensi horizontal (panjang dan lebar), tetapi berukuran kecil pada arah vertikal. Lempeng-lempeng itu masing-masing mempunyai gerak pergeseran mendatar. Akibat arah pergeseran yang tidak sama, maka terjadilah tiga jenis batas pertemuan antara lempeng-lempeng itu, yaitu saling menjauh, saling bertumbukan, dan saling berpapasan.
1.    Di daerah dua lempeng saling menjauh mendapat beberapa fenomena, seperti :
a.    Perenggangan lempeng yang disertai pertumbukan kedua tepi lempeng tersebut.
b.    Pembentukan tanggul dasar samudera di sepanjang tempat perenggangan lempeng.
c.    Aktivitas vulkanisme laut dalam yang menghasilkan lava basa berstruktur bantal dan hamparan leleran lava yang encer.
d.    Aktivitas gempa di dasar laut dan sekitarnya

2.    Di daerah pertemuan dua lempeng, terjadi beberapa fenomena sebagai berikut :
a.    Terdapat aktivitas vulkanisme, intrusi, dan ekstrusi.
b.    Merupakan daerah hiposentrum gempa dangkal dan dalam.
c.    Lempeng dasar samudera menunjam ke bawah lempeng benua.
d.    Terbentuk palung laut di tempat tumbukan itu.
e.    Pembengkakan tepi lempeng benua yang merupakan deretan pegunungan.
f.     Penghancuran lempeng akibat pergesekan lempeng, dan
g.    Timbunan sedimen campuran yang dalam geologi dikenal dengan nama batuan bancuh atau melange.

3.    Di daerah lempeng saling berpapasan terjadi pergeseran mendatar
Pada lipatan bagian lembah yang turun, dinamakan sinklin dan yang puncak terangkat dinamakan antiklin.

D.   Teori Lempeng Tektonik dan Persebaran Gunung Api Serta Gempa Bumi

Di daerah yang lempengannya saling menjauh, timbul bahan lelehan dari dalam bumi melalui retakan-retakan, kemudian menjadi dingin dan membentuk batuan yang disebut basal. Berpisahnya lempengan-lempengan bumi ini terjadi jauh di bawah lautan di bumi. Basal yang timbul kemudian membentuk deretan pematang bawah samudera.
Di Indonesia terdapat 400 gunung berapi, tetapi yang masih aktif kira-kira 80 gunung saja. Gunung-gunung tersebut digolongkan atas tiga barisan, yakni :
1.    Sumatera – Jawa – Nusatenggara – sekitar Laut Banda.
2.    Halmahera dan pulau-pulau di sebelah baratnya.
3.    Sulawesi Utara – Pulau Sangihe – Pulau Mindanao.
Ada tiga sistem pokok persebaran pegunungan yang bertemu di Indonesia, yakni Sistem Sunda, Sistem Busur Tepi Asia, dan Sistem Sirkum Australia.

1.    Sistem Sunda
Sistem ini dimulai dari Arakan Yoma di Myanmar sampai ke Kepulauan Banda di Malaka dengan panjang + 7.000 km. Sistem ini terdiri dari 5 busur pegunungan, yaitu:
a.    Busur Arakan Yoma, berpusat di Shan (Myanmar).
b.    Busur Andaman Nicobar, berpusat di Mergui.
c.    Busur Sumatera-Jawa, berpusat di Anambas.
d.    Busur Kepulauan Nusa Tenggara, berpusat di Flores.
e.    Busur Banda, berpusat di Banda.

2.    Sistem Busur Tepi Asia
a.    Cabang pertama, dari Pulau Luzon melalui Pulau Palawan ke Kalimantan Utara.
b.    Cabang kedua, dari Pulau Luzon melalui Pulau Samar ke Mindanau, dan Kepulauan Sulu ke Kalimantan Utara.
c.    Cabang ketiga, dari Pulau Samar ke Mindanau, dan Pulau Sangihe ke Sulawesi.
3.    Sistem Sirkum Australia
a.    Cabang pertama dari ekor Pulau Irian melalui bagian tengah sampai ke Pegunungan Charleslois di sebelah barat.
b.    Cabang kedua dari Kepulauan Bismarck melalui pegunungan tepi utara Irian sampai ke kepala burung menuju Halmahera.

Pusat gempa di dalam bumi disebut hiposentrum. Pusat gempa pada permukaan bumi di atas hiposentrum disebut episentrum. Pada peta gempa ada beberapa macam garis yang dikenal, yakni :
1.    Homoseista ialah garis yang menghubungkan tempat-tempat yang dilalui gempa pada waktu yang sama.
2.    Isoseista ialah garis yang menghubungkan tempat-tempat yang dilalui oleh gempa dengan berintensitas yang sama. Ada isoseista yang ke-1, ke-2, ke-3, dan seterusnya.
3.    Pleistoseista ialah garis yang mengelilingi daerah yang mendapat kerusakan terhebat dari gempa bumi.
Proses perambatan gempa bumi melalui tiga macam getaran, yaitu:
1.    Getaran longitudinal (merapat-merenggang)
Getaran berasal dari hiposentrum dan bergerak melalui dalam bumi. Kecepatan getaran ini besar sekali, yakni 7-14 km per jam.
2.    Getaran transversal (naik turun)
Getaran ini berasal dari hiposentrum dan bergerak melalui (bagian) dalam bumi. Kecepatan getaran ini antara 4-7 km per jam.
3.    Getaran gelombang panjang
Getaran ini berasal dari episentrum dan bergerak melalui permukaan bumi. Kecepatan getaran ini antara 3,8-3,9 km per jam.

Dilihat dari intensitasnya, ada dua macam gempa, yakni:
1.    Makroseisme, yaitu gempa yang intensitasnya besar dan dapat diketahui tanpa alat.
2.    Mikroseisme, yaitu gempa yang intensitasnya kecil sekali dan hanya dapat diketahui dengan menggunakan alat saja.
Menurut sebab terjadinya, gempa ada tiga macam, yaitu:
1.    Gempa runtuhan terjadi karena gugurnya atau runtuhnya tanah
2.    Gempa vulkanis, terjadi karena meletusnya gunung api.
3.    Gempa tektonik, disebabkan oleh gerak lempeng tektonik dan merupakan akibat dari gerak orogenetik. Karena gempa ini selalu mengakibatkan pergeseran muka bumi, maka gempa ini disebut juga gempa dislokasi. Gempa bumi tektonik banyak terjadi di daerah yang masih labil, misalnya daerah :
1.      Rangkaian mediterania, seperti Balkan, Iran, India, dan Indonesia.
2.      Rangkaian sirkum pasifik, seperti Jepang, Filipina, Cile, dan Amerika Tengah.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar